Karhutla Lampung Jadi Perhatian, Gubernur Mirza Perintahkan Penguatan Mitigasi hingga Desa

oleh

BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui percepatan pemadaman, pemetaan titik panas, serta peningkatan mitigasi hingga tingkat desa. Upaya tersebut dilakukan untuk menekan risiko kebakaran baru di tengah kondisi cuaca kering dan panas yang masih berpotensi berlangsung.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana meningkatkan koordinasi dan bergerak bersama dalam mengatasi kebakaran. Menurutnya, upaya pengendalian karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat.

Hal itu disampaikan Gubernur yang akrab disapa Mirza tersebut saat konferensi pers di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung, Senin (19/10/2026).

Mirza menegaskan, penanganan karhutla harus dilakukan secara menyeluruh. Selain memadamkan api, pemerintah juga perlu memperkuat langkah pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang, terutama di wilayah yang memiliki riwayat kemunculan titik panas.

Ia meminta pemerintah daerah meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembakaran sampah dan lahan saat kondisi cuaca kering.

Pemetaan Titik Panas Diperkuat

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi, mengatakan pemantauan titik panas dilakukan melalui citra satelit, aplikasi Pusdalops, serta laporan dari masyarakat dan BPBD kabupaten/kota.

Pemantauan satelit diperbarui dua kali sehari, sekitar pukul 08.00 dan 20.00 WIB. Hasil pemantauan malam yang dirilis pada pagi hari rata-rata mencatat 30–60 titik panas. Adapun pemantauan siang yang diumumkan pada malam hari dapat menunjukkan sekitar 80–100 titik panas.

Meski demikian, kemunculan titik panas tidak selalu menandakan kebakaran. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi suhu permukaan yang tinggi atau aktivitas pembakaran terkendali.

Karena itu, Gubernur Mirza meminta data tersebut dimanfaatkan untuk menentukan wilayah prioritas mitigasi. BPBD diminta menyusun peta persebaran titik panas dan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota agar informasi tersebut dapat ditindaklanjuti hingga tingkat desa.

Dengan langkah ini, pemerintah desa diharapkan mampu mengenali daerah rawan kebakaran, meningkatkan pengawasan, serta mencegah aktivitas yang berpotensi memicu munculnya api.

Kebakaran Way Kambas Masih Ditangani

Kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur menjadi salah satu fokus utama penanganan karhutla. Kebakaran di kawasan tersebut telah berlangsung selama 24 hari sejak 25 September 2026.

Berdasarkan laporan hingga 18 Oktober, pemadaman melalui jalur darat telah menjangkau sekitar 192 hektare. Sementara itu, operasi pemadaman dari udara menggunakan metode water bombing telah dilakukan sedikitnya 923 kali, dengan estimasi area yang terkena siraman air sekitar 124 hektare.

Pemantauan menggunakan drone pada pukul 17.00 WIB sehari sebelumnya masih menunjukkan indikasi area terbakar atau berasap seluas sekitar 30 hektare.

Area tersebut terbagi di tiga titik, yakni titik B sekitar 3 hektare, titik C sekitar 13 hektare, dan titik D sekitar 14 hektare.

Operasi darat dilakukan oleh empat tim. Kegiatan tersebut mencakup pemantauan menggunakan drone, pemadaman di kawasan Rawa Gelam dan titik B, serta pembukaan jalur sepanjang kurang lebih 6 kilometer menuju titik D.

Petugas masih menghadapi sejumlah kendala, seperti rapatnya vegetasi, keterbatasan peralatan dan logistik, serta jarak sumber air dari Sungai Way Pegadungan ke lokasi kebakaran yang mencapai sekitar 1,5 kilometer.

Untuk mendukung operasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan bantuan peralatan pemadaman yang direncanakan disalurkan kepada sekitar 350 personel satgas darat. Pemprov Lampung juga berharap memperoleh tambahan helikopter untuk memperkuat upaya pemadaman melalui jalur udara.

Operasi Modifikasi Cuaca Dihentikan

Upaya penanganan karhutla sebelumnya juga dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca yang dilaksanakan BPBD Lampung bersama BNPB dan BMKG pada 11–13 Oktober 2026.

Dalam operasi tersebut, dilakukan tiga sorti penerbangan dengan total durasi 6 jam 16 menit. Sebanyak 3.000 kilogram natrium klorida (NaCl) digunakan sebagai bahan semai.

Namun, operasi dihentikan pada 18 Oktober karena tidak ditemukan awan potensial untuk penyemaian.

Berdasarkan perkiraan BMKG yang disampaikan dalam konferensi pers, kondisi cuaca diperkirakan masih sangat kering dan panas. Oleh sebab itu, masyarakat dan seluruh unsur penanganan bencana diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya titik api baru.

Kebakaran di Tulang Bawang dan Lampung Tengah

Selain di Way Kambas, penanganan kebakaran juga dilakukan di sekitar gerbang tol Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, serta lokasi pembuangan sampah di sekitar Kilometer 132B Tol Lampung Tengah, tepatnya di Bandar Jaya Timur, Kecamatan Terbanggi Besar.

Kebakaran di kawasan Menggala yang terjadi pada 16 Oktober telah berhasil dikendalikan pada malam hari. Petugas kemudian melakukan pendinginan untuk mengantisipasi munculnya kembali api.

Sementara itu, kebakaran di lokasi pembuangan sampah berdampak pada area sekitar 1,5 hektare. Dalam laporan penanganan, tidak terdapat korban jiwa maupun bangunan yang terdampak.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengoordinasikan dukungan armada dan personel pemadam kebakaran dari sejumlah daerah guna mempercepat penanganan di Lampung Tengah.

Bantuan tersebut terdiri atas dua unit mobil pemadam kebakaran dari Bandar Lampung serta masing-masing satu unit dari Kota Metro, Lampung Selatan, dan Pesawaran. Penanganan turut didukung penggunaan ekskavator untuk mengurai tumpukan sampah.

Langkah tersebut diperlukan agar api yang masih membara di bagian dalam tumpukan sampah dapat dijangkau dan dipadamkan secara menyeluruh.

Kualitas Udara Masih dalam Batas Baku Mutu

Di tengah penanganan kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung terus memantau kualitas udara di Bandar Lampung dan sekitarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, Riski Sofyan, menyampaikan bahwa hasil pengukuran berdasarkan tujuh parameter Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diperiksa masih berada di bawah ambang batas baku mutu.

Pembaruan data pada pukul 09.00 WIB, Senin (19/10/2026), menunjukkan kualitas udara masih dapat diterima untuk kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan.

Kendati demikian, masyarakat tetap diminta menjaga lingkungan dan menerapkan langkah perlindungan kesehatan, terutama bagi kelompok yang sensitif terhadap perubahan kualitas udara.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Turut Dipantau

BPBD Lampung juga memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Aswarodi melaporkan bahwa gunung tersebut mengalami empat erupsi berdurasi pendek pada 18 Oktober 2026.

Berdasarkan koordinasi dengan pos pengamatan dan relawan di Pulau Sebesi serta Pulau Tejang, abu vulkanik dilaporkan belum mencapai pulau-pulau terdekat. Kondisi gelombang laut juga masih normal.

Pemerintah tetap melakukan pemantauan dan mengimbau masyarakat mengikuti informasi serta rekomendasi resmi dari otoritas terkait.

Mitigasi Didorong hingga Tingkat Desa

Gubernur Mirza meminta seluruh unsur pemerintah, aparat keamanan, relawan, dan masyarakat mempertahankan kesiapsiagaan hingga musim hujan tiba.

Ia juga menekankan pentingnya penyampaian informasi kebencanaan secara berkala agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat mengenai perkembangan situasi dan langkah penanganan yang dilakukan.

Pemprov Lampung berharap kombinasi antara percepatan pemadaman, pemetaan titik panas, patroli kawasan hutan, dan koordinasi lintas daerah dapat menekan risiko kebakaran berulang.

Penguatan mitigasi hingga tingkat desa menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi masyarakat dari dampak kebakaran dan asap, menjaga keselamatan pengguna jalan, serta mengurangi kerusakan lingkungan di Provinsi Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *