BANDAR LAMPUNG (KRUSIAL.CO.ID) — Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan solar masih terlihat di sejumlah SPBU di Provinsi Lampung. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena terjadi ketika pemerintah daerah menyatakan pasokan BBM, termasuk solar, dalam kondisi aman.
Kendaraan berbahan bakar diesel harus mengantre cukup lama untuk mendapatkan solar bersubsidi. Situasi ini dikeluhkan karena waktu yang tersita di SPBU dapat berdampak terhadap aktivitas masyarakat maupun operasional kendaraan angkutan.
Di tengah kondisi tersebut, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Lampung memastikan persoalan antrean bukan disebabkan oleh kelangkaan stok.
Kepala Dinas ESDM Lampung Budhi Darmawan mengatakan persediaan BBM masih aman. Namun, tingginya permintaan terhadap BBM subsidi membuat tekanan di lapangan meningkat.
“Sebenarnya stok aman. Permintaan subsidi meningkat, konsumen juga banyak yang beralih ke BBM subsidi karena disparitas harga subsidi dan nonsubsidi tinggi,” kata Budhi, Rabu (7/10/2026).
Menurut Budhi, selisih harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi menjadi salah satu faktor yang mendorong konsumen beralih menggunakan BBM subsidi.
Peningkatan permintaan tersebut kemudian berpengaruh terhadap kebutuhan solar di SPBU. Ketika jumlah kendaraan yang membutuhkan BBM subsidi meningkat, kapasitas pelayanan SPBU pada waktu tertentu dapat mengalami tekanan dan memicu antrean.
Pertumbuhan Ekonomi Ikut Dongkrak Konsumsi BBM
Budhi juga menilai peningkatan konsumsi BBM tidak terlepas dari perkembangan aktivitas ekonomi di Lampung.
Pertumbuhan ekonomi mendorong meningkatnya mobilitas masyarakat. Di saat yang sama, jumlah kendaraan baru juga terus bertambah sehingga kebutuhan terhadap bahan bakar ikut mengalami peningkatan.
“Mungkin kondisi saat ini perekonomian Lampung juga meningkat dan jumlah kendaraan baru semakin banyak,” ujarnya.
Meski demikian, kondisi antrean panjang tetap perlu menjadi perhatian. Sebab, pernyataan stok aman di tingkat pasokan belum tentu langsung menjamin masyarakat dapat memperoleh solar dengan mudah di SPBU.
Bagi pengusaha angkutan, misalnya, waktu yang dihabiskan untuk mengantre dapat berpengaruh terhadap jadwal perjalanan dan biaya operasional.
Persoalan lainnya adalah bagaimana memastikan distribusi solar dari titik pasokan hingga SPBU berjalan sesuai kebutuhan. Ketepatan waktu pengiriman dan pemerataan pasokan menjadi faktor penting agar tidak terjadi penumpukan kendaraan di SPBU tertentu.
Disparitas Harga Jadi Persoalan
Tingginya minat terhadap BBM bersubsidi juga memperlihatkan kuatnya pengaruh perbedaan harga dengan BBM nonsubsidi.
Semakin besar selisih harga, semakin besar pula potensi perpindahan konsumen ke produk bersubsidi. Kondisi ini pada akhirnya dapat meningkatkan tekanan terhadap kuota dan distribusi BBM subsidi.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan BBM subsidi benar-benar tersedia bagi masyarakat yang berhak. Pengawasan terhadap penggunaan dan distribusi solar subsidi juga menjadi bagian penting untuk mencegah terjadinya ketidakseimbangan pasokan.
Di sisi lain, informasi mengenai stok dan distribusi perlu disampaikan secara transparan kepada masyarakat. Dengan begitu, publik dapat memahami apakah antrean disebabkan peningkatan permintaan, keterbatasan pelayanan SPBU, distribusi, atau faktor lainnya.
Antrean solar yang masih terjadi menunjukkan bahwa persoalan BBM tidak cukup hanya diukur dari ketersediaan stok di tingkat pasokan.
Stok yang dinyatakan aman harus diikuti distribusi yang lancar hingga ke SPBU, sehingga masyarakat tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM.
Dengan mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi Lampung yang terus berkembang, pemerintah dan pihak terkait dituntut mampu mengantisipasi kenaikan konsumsi BBM. Jika tidak, antrean panjang berpotensi kembali terjadi meskipun pasokan secara umum dinyatakan aman.

